Jika kamu sering melihat ke langit malam, kamu pasti menyadari bahwa bentuk Bulan selalu berubah-ubah. Suatu malam Bulan tampak seperti garis sabit yang tipis, di malam lain terlihat separuh, hingga akhirnya menjadi bulat sempurna sebagai Bulan purnama.

Fenomena ini sering membuat kita penasaran. Apakah Bulan benar-benar menyusut dan membesar? Jawabannya tentu tidak. Ukuran dan bentuk fisik Bulan selalu sama. Perubahan penampilan yang kita lihat dari Bumi ini disebut sebagai fase-fase Bulan, yang terjadi akibat gabungan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan.

Penyebab Utama Perubahan Bentuk Tampak

Bulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Seluruh cahaya Bulan yang kita lihat di malam hari sebenarnya adalah pantulan dari sinar Matahari. Karena Bulan berbentuk bola, Matahari selalu menerangi separuh dari permukaan Bulan, sementara separuh sisanya berada dalam kegelapan.

Saat Bulan bergerak mengelilingi Bumi (berevolusi), sudut antara Matahari, Bulan, dan Bumi terus berubah. Hal ini menyebabkan porsi permukaan Bulan yang diterangi Matahari dan menghadap ke Bumi selalu bervariasi setiap harinya.

Delapan Fase Utama Bulan

Dalam satu siklus yang berlangsung sekitar 29,5 hari (disebut bulan sinodis), Bulan melewati delapan fase utama:

  • Bulan Baru (New Moon): Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Sisi Bulan yang diterangi membelakangi Bumi, sehingga Bulan tidak terlihat sama sekali dari Bumi.
  • Sabit Muda (Waxing Crescent): Sebagian kecil porsi Bulan yang diterangi mulai terlihat dari Bumi di sebelah barat setelah Matahari terbenam.
  • Kuartal Pertama (First Quarter): Separuh porsi Bulan yang diterangi Matahari tampak jelas dari Bumi.
  • Cembung Menerang (Waxing Gibbous): Porsi yang diterangi Matahari terlihat lebih dari separuh dan terus membesar setiap malam.
  • Bulan Purnama (Full Moon): Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Seluruh porsi permukaan Bulan yang diterangi Matahari menghadap penuh ke Bumi, sehingga Bulan tampak bulat sempurna.
  • Cembung Menjelap (Waning Gibbous): Setelah fase purnama, porsi terang Bulan mulai berkurang atau mengecil secara perlahan.
  • Kuartal Ketiga (Third Quarter): Kembali terlihat separuh porsi Bulan yang diterangi, namun berada di sisi yang berlawanan dari fase Kuartal Pertama.
  • Sabit Tua (Waning Crescent): Hanya tersisa garis sabit tipis sebelum akhirnya Bulan kembali memasuki fase Bulan Baru dan mengulang siklusnya.
See also  Kenapa Manusia Suka Bermain? Ternyata Ada Banyak Hal yang Bisa Dipelajari dari Sebuah Permainan

Pengaruh Orbit Bulan yang Miring

Mungkin kamu bertanya, jika Bulan Baru berada di antara Bumi dan Matahari, mengapa tidak terjadi gerhana matahari setiap bulan?

Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang tidak sepenuhnya sejajar dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari. Orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5 derajat. Oleh karena itu, pada sebagian besar fase Bulan Baru, Bulan berada sedikit di atas atau di bawah piringan Matahari jika dilihat dari Bumi. Gerhana hanya terjadi ketika posisi ketiga benda langit ini benar-benar sejajar secara presisi.